<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ilmu &#38; Pengetahuan</title>
	<atom:link href="http://venuskomputer.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://venuskomputer.wordpress.com</link>
	<description>Memberikan Pengetahuan dan Informasi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Mar 2009 07:51:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='venuskomputer.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ilmu &#38; Pengetahuan</title>
		<link>http://venuskomputer.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://venuskomputer.wordpress.com/osd.xml" title="Ilmu &#38; Pengetahuan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://venuskomputer.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MENGAPA PIM  HARUS DIRELOKASI ?: ARGUMENTASI ARKEOLOGIS</title>
		<link>http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/05/mengapa-pim-harus-direlokasi-argumentasi-arkeologis/</link>
		<comments>http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/05/mengapa-pim-harus-direlokasi-argumentasi-arkeologis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 03:48:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harto12</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venuskomputer.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[  Di lokasi bakal tempat PIM (Pusat Informasi Majapahit) yang telah digali pondasinya itu memang situs. Kalangan peneliti arkeologi menjulukinya Situs Segaran III, IV, dan V. Penamaan itu didasarkan kepada pembagian sektor penelitian arkeologi karena dekat dengan kolam luas Segaran yang berukuran 375 x 175 m,  dalamnya sekitar 3 m. Lokasi calon PIM semula, dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=venuskomputer.wordpress.com&amp;blog=6824015&amp;post=13&amp;subd=venuskomputer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<a href='http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/05/mengapa-pim-harus-direlokasi-argumentasi-arkeologis/brbudur2/' title='brbudur2'><img data-attachment-id='36' data-orig-size='463,161' data-liked='0'width="150" height="52" src="http://venuskomputer.files.wordpress.com/2009/03/brbudur2.jpg?w=150&#038;h=52" class="attachment-thumbnail" alt="brbudur2" title="brbudur2" /></a>
<a href='http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/05/mengapa-pim-harus-direlokasi-argumentasi-arkeologis/brbudur3/' title='brbudur3'><img data-attachment-id='37' data-orig-size='508,190' data-liked='0'width="150" height="56" src="http://venuskomputer.files.wordpress.com/2009/03/brbudur3.jpg?w=150&#038;h=56" class="attachment-thumbnail" alt="brbudur3" title="brbudur3" /></a>
<a href='http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/05/mengapa-pim-harus-direlokasi-argumentasi-arkeologis/brbudur4/' title='brbudur4'><img data-attachment-id='38' data-orig-size='460,164' data-liked='0'width="150" height="53" src="http://venuskomputer.files.wordpress.com/2009/03/brbudur4.jpg?w=150&#038;h=53" class="attachment-thumbnail" alt="brbudur4" title="brbudur4" /></a>

<p> </p>
<p>Di lokasi bakal tempat PIM (Pusat Informasi Majapahit) yang telah digali pondasinya itu memang situs. Kalangan peneliti arkeologi menjulukinya Situs Segaran III, IV, dan V. Penamaan itu didasarkan kepada pembagian sektor penelitian arkeologi karena dekat dengan kolam luas Segaran yang berukuran 375 x 175 m,  dalamnya sekitar 3 m. Lokasi calon PIM semula, dalam perspektif arkeologi masih dapat disebut “aman”, karena memang di lokasi itu penggalian tanah liat untuk bata oleh penduduk di linggan-linggan belum dilakukan, maklum tanah di lokasi tersebut telah menjadi milik pemerintah. Lokasi itu jadi tidak ranap dengan tanah sekitarnya, agak membukit karena memang belum “diapa-apakan”. Setelah “Geger Trowulan” selama berhari-hari di mass media yang dipelopori oleh KOMPAS  mulai hari Minggu, 4 Januari 2009, dan disokong oleh berbagai berita sejenis di mass media lainnya,  maka lokasi proyek Pusat Informasi Majapahit itu harus direlokasi.</p>
<p align="justify">Semua pihak mengakui bahwa pada prinsipnya pembangunan PIM bertujuan baik dan elegan, namun yang disesalkan adalah prosedur yang ditempuh terlalu terburu-buru, sehingga terjadi kekeliruan dalam penentuan lokasi. Banyak kalangan yang mengusulkan agar dipindah, Mentri Jero Wacik akhirnya menyetujui, tetapi alasan ilmiah pemindahan itu belum dijelaskan dengan baik oleh para penganjur pemindahan lokasi. Hanya dinyatakan oleh tim evaluasi dan para arkeolog bahwa lokasi sekarang adalah situs penting, bekas permukiman masa Majapahit, proyek telah merusak situs warisan nenek moyang, karenanya harus dihentikan. Sebenarnya argumentasi nilai penting itu tidak pernah dijelaskan secara jelas sampai sekarang, sehingga tidak terangkat ke permukaan seberapa jauh keistimewaan situs tersebut. Berikut dikemukakan beberapa argumentasi dari sudut pandang arkeologi klasik Indonesia tentang alasan dipindahkannya lokasi PIM ke tempat lain, dengan meninggalkan situs Segaran III, IV, dan V yang telah terkoyak-koyak dan mustahil dikembalikan seperti aslinya lagi.</p>
<p>Dalam pandangan arkeolog  yang  meneliti  Trowulan, situs itu merupakan:</p>
<p align="justify"><strong>1.Multicomponent sites</strong><br />
Dalam persiapan untuk menentukan titik-titik pondasi gedung PIM yang semula direncanakan di situs Segaran III, IV, dan V (sebelah selatan Gedung Museum Situs Trowulan), telah dilakukan penggalian penyelamatan terhadap temuan dan struktur bata yang terdapat di area situs tersebut.  Penggalian arkeologi secara cepat pun dilakukan oleh para arkeolog yang bertugas dalam kegiatan tersebut. Di beberapa lokasi penggalian tidak ditemukan struktur apapun yang berarti, logikanya lokasi itu dianggap aman untuk digali lebih dalam sebagai lubang tiang pondasi. Pada kenyataannya setelah suatu lokasi dianggap “aman” kemudian diperdalam, ternyata di lapisan-lapisan tanah lebih dalam dari 30-100 cm ditemukan struktur bata, dan temuan arkeologi lainnya. Artinya jika di bagian lapisan permukaan (atas) “aman”, tidak berarti pada lapisan bawahnya tidak ada benda arkeologi. Situs Segaran III, IV, dan V merupakan multicomponent sites, atau situs yang memiliki temuan arkeologi berlapis.</p>
<p align="justify">Dalam ekskavasi yang dilakukan di situs-situs lain di Trowulan para arkeolog mendapatkan 3 lapisan temuan benda-benda masa lalu. Maka diasumsikan bahwa lapisan paling bawah merupakan struktur peninggalan era Majapahit awal, lapisan tengah merupakan peninggalan lapisan budaya Majapahit pada masa kejayaannya, karena temuannya yang selalu baik, rapi, dan tertata apik, dan pada lapisan paling atas adalah tinggalan dari zaman Majapahit menjelang keruntuhannya, temuannya menunjukkan adanya pekerjaan yang asal-asalan, terkesan terburu-buru, dan asal jadi. Bisa saja lapisan budaya Majapahit paling atas itu tidak ada, karena memang di suatu lokasi hanya dikenai aktivitas era Majapahit awal dan kejayaannya, atau juga hanya pada masa kejayaan Majapahit saja, tetapi dapat juga lengkap 3 lapisan budaya Majapahit itu hadir di lokasi yang sama.</p>
<p><strong>2.Area situs permukiman yang langka</strong></p>
<p align="justify">Kandungan yang terdapat di situs Segaran III pernah digali secara bertahap oleh mahasiswa departemen arkeologi FIB Universitas Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini. Maka dapat diketahui berdasarkan sebagian area situs yang dibuka itu adalah suatu situs pemukiman masa Majapahit yang padat, namun teratur baik. Di situs tersebut terdapat,</p>
<p align="justify"><strong>a.Deretan perumahan</strong><br />
Sejumlah pondasi bangunan hunian menunjukkan adanya deretan rumah-rumah dengan orientasi utara-selatan, namun telah mengalami deviasi sekitar 10—120  ke arah timur laut-barat daya. Jadi orientasinya sudah berada di kwadran timur laut-barat daya. Berdasarkan temuan struktur bata hasil ekskavasi dapat diketahui bahwa rumah-rumah itu berdenah empat persegi panjang, berbilik dengan dinding dari bahan cepat rusak, beratap bentuk perisai, dan data lainnya. Rumah hunian Majapahit hasil rekonstruksi pernah dipamerkan dalam Pameran Majapahit di Museum Nasional Jakarta.</p>
<p align="justify"><strong>b.Pedestrian di permukiman<br />
</strong>Data penting lainnya yang tidak pernah dijumpai di situs masa Klasik Indonesia adalah hamparan jalan di pemukiman yang ditata rapi. Jalan tersebut tidak terlalu lebar, sekitar 1,30 m, bagian tepinya dibatasi dengan bata tebal dan kuat, badan jalan diisi dengan batu-batu bulat, besar dan kecil saling mengisi rapi dan ketat.  Terdapat segmen jalan yang batu isiannya adalah batu-batu bulat sekepalan berwarna putih, mungkin ini adalah jalur jalan pemukiman yang utama, karena seluruh permukaan jalan ditutup dengan mosaik batu putih.</p>
<p align="justify"><strong>c.Saluran pembuangan air</strong><br />
Cukup mengagumkan bahwa pemukiman Majapahit dalam abad ke-14 tersebut dilengkapi dengan selokan dan saluran air yang berhubungan dari rumah ke rumah lalu menuju parit yang lebih besar. Di bagian-bagian tertentu saluran air itu tidak terlihat, karena masuk dalam tanah, dan di tempat itulah digunakan pipa-pipa terakota yang disambung-sambungkan untuk jalan air mengalir. Saluran air ada di bagian samping dan depan rumah, untuk menampung jatuhnya air hujan dari ujung penutup atap dan juga untuk mengalirkan air yang digunakan untuk mencuci kaki di anak tangga, di depan pintu.</p>
<p align="justify"><strong>d.Tempayan air: pādyārghyācamaniya</strong><br />
Berdasarkan data hasil penggalian di situs tersebut didapatkan pecahan tempayan besar, dan sangat mungkin diletakkan di bagian depan rumah-rumah. Data penggalian memperlihatkan bahwa pecahan tempayan selalu ditemukan di samping deretan anak tangga yang menuju pintu rumah. Keadaan situs seperti itu dengan adanya tempayan besar di dekat trap tangga naik masuk rumah tidak pernah dijumpai di area lainnya di Trowulan.</p>
<p align="center"><img title="Majapahit" src="http://venuskomputer.wordpress.com/images/majaphit1.gif" border="0" alt="Majapahit" width="539" height="643" /></p>
<p align="justify">Dalam masyarakat Jawa Kuno dan juga dalam masyarakat Majapahit, dikenal adanya upacara membersihkan kaki, tangan dan tubuh dengan menggunakan air dalam tempayan. Upacara itu dilakukan di depan rumah, sebelum seseorang memasukinya. Selain digunakan untuk upacara yang bersifat religius dinamakan pādyārghyācamaniya (menyucikan telapak kaki dan tubuh dari pengaruh jahat), air dalam tempayan juga berfungsi praktis, yaitu untuk mencuci kaki agar bersih sebelum masuk rumah yang dihampari tikar pandan, maklum masa itu belum ada terompah, kasut, atau sepatu, pastinya jika musim hujan kaki orang Majapahit kotor blepotan lumpur dan tanah becek, jadi harus dibersihkan sesaat sebelum masuk rumah.</p>
<p align="justify"><strong>e.Gugusan bangunan tempat tinggal:  Pakuwon<br />
</strong>Berdasarkan data hasil penggalian arkeologi, dapat diketahui bahwa situs tersebut menunjukkan adanya gugusan bangunan tempat tinggal atau dalam bahasa Jawa Kuno dinamakan pakuwuan (pakuwon). Dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan rumah dalam masa Majapahit merupakan kumpulan bangunan yang dipagar keliling tinggi dengan gerbang candi bentar (gapura terbelah) di halaman depan dan gerbang kori (gapura beratap) di halaman inti. Apa yang dipahatkan dalam relief tentang penggambaran rumah bangsawan Majapahit, ditemukan keadaan sebenarnya walaupun tidak lengkap lagi dalam suatu situs.</p>
<p align="justify"><strong>3.Madyaning madya Wilwatikta<br />
</strong>Apabila kawasan situs Trowulan dibagi dalam sistem Tri Angga yang terdiri dari 9 area (sanga mandala), maka hasilnya cukup mengejutkan. Dalam sistem sangamandala  ternyata kolam Segaran dan sekitarnya (termasuk situs Segaran III—V) berada dalam area tengah, madyaning madya Trowulan, jadi area tengahnya kota Wilwatikta (Majapahit). Hal itu sejalan dengan konsep alam semesta menurut ajaran Hinduisme ataupun Buddhisme bahwa titik tengah alam itu adalah Gunung Mahameru yang dikelilingi oleh 7 samudera dan rangkaian pegunungan berselang-seling. Dalam asumsi ini mengemuka pendapat bahwa dahulu di tengah kolam Segaran sangat mungkin terdapat bangunan bale kambang simbol Mahameru, hanya saja sekarang tidak tersisa lagi. Dalam cerita-cerita mitologi Hindu terdapat ajaran yang menghala kepada ungkapan “menggangu Mahameru, berarti mengganggu keseimbangan seluruh alam semesta”.</p>
<p align="justify"><strong>4. Pusat Aktivitas Ritual</strong><br />
Jelas apabila dikaitkan dengan konsep titik tengah Majapahit, maka areal sekitar kolam Segaran merupakan pusat aktivitas ritual. Kegiatan upacara keagamaan di masa silam kerapkali dilakukan di tepian kolam Segaran. Pastinya terdapat lingkaran-lingkaran sakral berlapis yang berawal dari kolam Segaran sebagai titik tengah, berangsur-angsur ke luar menjauhi kolam. Dalam konsepsi Hindu mestinya terbagi dalam 3 lapis area (bhur-, bhuwar-, dan swarloka), tetapi batas area itu belum dapat diketahui. Seluruh temuan di sekitar  kolam Segaran sebenarnya adalah rekaman aktivitas ritual masyarakat Majapahit yang harus segera diungkapkan, bukan malahan dirusak.</p>
<p align="justify"><strong>5.Tabir pembuka misteri lokasi kedaton<br />
</strong>Adalah masalah penting yang didambakan segera dipecahkan oleh para ahli, yaitu lokasi kedaton Majapahit. Kedaton yang diuraikan dalam kakawin Nagarakrtagama pupuh 8—12 adalah milik Hayam Wuruk, perihal itu telah banyak ahli yang mencoba menggambarkan keadaan keraton dan mencocokkannya dengan keadaan situs Trowulan Sebut saja Maclaine Pont (1924), W.F.Stutterheim (1948), Th.G.Th.Pigeaud (1960—62),  Slamet Mulyana (1965), dan A.A.Munandar (2005) namun tafsiran mereka masih belum memuaskan.  Jika pengetahuan tentang situs Segaran dapat segera diungkapkan (jadi tidak dirusak), diharapkan lokasi kedaton Wilwatikta dapat segera diidentifikasikan. Pada prinsipnya sistem tata kota lama zaman Klasik telah diketahui oleh para arkeolog, hanya perlu diketahui titik awal penentuan itu, lalu  berangsur-angsur bergerak menuju lokasi di mana kedaton itu pernah berada.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/venuskomputer.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/venuskomputer.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/venuskomputer.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/venuskomputer.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/venuskomputer.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/venuskomputer.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/venuskomputer.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/venuskomputer.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/venuskomputer.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/venuskomputer.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/venuskomputer.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/venuskomputer.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/venuskomputer.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/venuskomputer.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=venuskomputer.wordpress.com&amp;blog=6824015&amp;post=13&amp;subd=venuskomputer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/05/mengapa-pim-harus-direlokasi-argumentasi-arkeologis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03af2f81a6afee03dc05e962541bb9a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">harto12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://venuskomputer.files.wordpress.com/2009/03/brbudur2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">brbudur2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://venuskomputer.files.wordpress.com/2009/03/brbudur3.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">brbudur3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://venuskomputer.files.wordpress.com/2009/03/brbudur4.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">brbudur4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://venuskomputer.wordpress.com/images/majaphit1.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Majapahit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGARUH HELLENISME DALAM GAYA SENI ARCA MASA KLASIK TUA DI JAWA (abad ke-8—10 M)</title>
		<link>http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/05/pengaruh-hellenisme-dalam-gaya-seni-arca-masa-klasik-tua-di-jawa-abad-ke-8%e2%80%9410-m/</link>
		<comments>http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/05/pengaruh-hellenisme-dalam-gaya-seni-arca-masa-klasik-tua-di-jawa-abad-ke-8%e2%80%9410-m/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 03:46:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harto12</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venuskomputer.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[01.Pengantar Dalam periodisasi sejarah kebudayaan Indonesia dikenal adanya beberapa tahapan secara garis besar, yaitu masa prasejarah yang merupakan perkembangan kebudayaan yang paling awal, seluruh kepulauan Indonesia mengalami tahapan prasejarah tersebut. Masa prasejarah kira-kira berakhir dalam abad ke-4 M dengan ditemukannya bukti tertulis awal di Nusantara. Masa prasejarah mempunyai suatu era penting yang dinamakan megalitik, dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=venuskomputer.wordpress.com&amp;blog=6824015&amp;post=10&amp;subd=venuskomputer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>01.Pengantar </strong></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-40" title="gb1" src="http://venuskomputer.files.wordpress.com/2009/03/gb1.jpg?w=460" alt="gb1"   /></p>
<p align="justify">Dalam periodisasi sejarah kebudayaan Indonesia dikenal adanya beberapa tahapan secara garis besar, yaitu masa prasejarah yang merupakan perkembangan kebudayaan yang paling awal, seluruh kepulauan Indonesia mengalami tahapan prasejarah tersebut. Masa prasejarah kira-kira berakhir dalam abad ke-4 M dengan ditemukannya bukti tertulis awal di Nusantara. Masa prasejarah mempunyai suatu era penting yang dinamakan megalitik, dalam era itu penduduk kepulauan Indonesia telah menghasilkan bermacam monumen megalitik sebagai sarana pemujaan kepada arwah leluhur (ancestor worship). Aktivitas dalam era megalitik tersebut tidaklah terhenti, melainkan di beberapa tempat terus berlanjut hingga masa sejarah sudah dikenal oleh penduduk kepulauan Nusantara, bahkan ada yang terus bertahan hingga dewasa ini.</p>
<p align="justify">Kemudian disusul masa transisi antara periode prasejarah dan sejarah yang dinamakan proto-sejarah. Pada prinsipnya proto-sejarah mempunyai dua ciri, yaitu (a) di suatu tempat telah dijumpai bukti tertulis yang diduga aksara namun belum dapat dibaca, dan (b) berita tentang suatu wilayah telah dicatat oleh bangsa lain yang telah mengenal tulisan, sementara itu penduduk wilayah tersebut belum mengenal tulisan.  Masa proto-sejarah terjadi secara berbeda-beda di wilayah Indonesia, ada yang hanya singkat saja, namun ada pula yang berlangsung selama beberapa abad.</p>
<p align="justify">Ketika penduduk kepulauan ini telah mengenal aksara dan meninggalkan berita tertulisnya, maka sejak itulah penduduk kepulauan Nusantara memasuki era sejarahnya. Dalam masa sejarah perkembangan kebudayaan Indonesia dapat dibagi menjadi periode Hindu-Buddha, periode masuk dan berkembangnya Islam, kolonialisme Belanda, dan kemerdekaan Indonesia. Kajian ini selanjutnya membicarakan periode Hindu-Buddha Indonesia, khususnya yang berkembang di wilayah Jawa bagian tengah. Dalam telaah kebudayaan Indonesia, masa perkembangan pengaruh Hindu-Buddha tersebut lazim dinamakan zaman Klasik Indonesia.</p>
<p align="justify"><strong>02.Gaya Seni Klasik Tua</strong></p>
<p align="justify">Pada galibnya suatu zaman dalam sejarah kebudayaan sesuatu bangsa dinamakan Klasik apabila mempunyai dua ciri:</p>
<ol>
<li>
<div>Masyarakat manusia dalam zaman itu telah menghasilkan tonggak-tonggak peradaban pertama yang akan menjadi dasar perkembangan peradaban selanjutnya di masa yang lebih kemudian, misalnya (mulai digunakan tulisan, sistem kalender, sistem kerajaan, konsep kepahlawanan, mitologi dewa-dewa, dan lainnya lagi).</div>
</li>
<li>
<div>Banyak kaidah, aturan, konsep atau norma budaya yang berkembang dalam zaman tersebut terus saja digunakan hingga masa sekarang, jadi di zaman sekarang seringkali masih mengacu kaidah lama yang pernah berkembang sebelumnya di zaman awal kegemilangan peradaban bangsa tersebut.<br />
Bagi bangsa Indonesia, zaman Klasik yang sesuai dengan kedua syarat  tersebut adalah masa perkembangan agama Hindu-Buddha di Nusantara, oleh karena itu masa Hindu-Buddha kemudian dinamakan zaman Klasik Indonesia.</div>
</li>
</ol>
<p align="justify">Berdasarkan  berbagai tinggalan arkeologisnya, zaman klasik dibagi menjadi dua periode, yaitu (a) zaman Klasik Tua yang berkembang antara abad ke-8—10 M, dan (b) zaman Klasik Muda berkembang antara abad ke-11—15 M. Kedua zaman itu berkembang di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Sumatera dan Bali, namun banyak bukti arkeologi dalam zaman Klasik Tua didapatkan di wilayah Jawa bagian tengah, oleh karena itu terdapat kepustakaan yang menyatakan agak keliru dengan sebutan “Zaman Jawa Tengah”. Adapun untuk zaman Klasik Muda disebut juga secara keliru dengan “Zaman Jawa Timur”, berhubung banyaknya temuan arkeologi dari abad ke-11—15 (sebenarnya baru mulai banyak sejak abad ke-13) yang terdapat di wilayah Jawa bagian timur. Justru pembagian zaman Klasik yang didasarkan kepada kronologi tersebut untuk memperluas cakupan kajian, jadi tidak melulu bicara tentang tinggalan di Jawa bagian tengah atau timur belaka (Munandar 1995: 108).</p>
<p align="justify">Masa sejarah di Indonesia dimulai setelah ditemukannya bukti prasasti-prasasti awal (bertarikh sekitar abad ke-4 M) ditemukan di wilayah Kutai, Kalimantan Timur yang menyebut nama raja Mulawarmman dan Jawa bagian barat yang menyebutkan Kerajaan Tarumanagara dengan rajanya Purnnawarmman.Prasasti-prasasti itu menggunakan aksara Pallava dengan bahasa Sansekerta (Suleiman, 1974: 14—15);  sedangkan nafas keagamaan yang terkandung dalam prasasti-prasasti tersebut bercorak Veda kuno, masih belum memuja Trimurti. Dalam masa sejarah itulah pengaruh kebudayaan India mulai datang dan berkembang secara terbatas di beberapa tempat di Nusantara. </p>
<p align="justify">Dalam masa selanjutnya pengaruh kebudayaan India awal yang menularkan ajaran Veda-Brahmana tersebut agaknya  tidak diminati lagi oleh masyarakat. Dengan menghilangnya kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat tidak ada kerajaan lainnya yang meneruskan ritual Veda Kuno yang didominasi oleh kaum Brahmana. Alih-alih kerajaan yang muncul kemudian di wilayah Jawa bagian tengah dalam abad ke-8 M bernafaskan Hindu Trimurti. Kerajaan itu adalah Mataram Kuno yang mengeluarkan Prasasti Canggal dalam tahun 732 M, dalam prasasti itu dinyatakan nama raja yang menitahkan penerbitan prasasti, yaitu Sanjaya. Nafas keagamaan yang cukup kentara dalam prasasti adalah Hindu-saiva, karena bait-baitnya banyak memuliakan Siva Mahadeva (Poerbatjaraka 1952: 53—55).</p>
<p align="justify">Bersamaan dengan masuknya pengaruh Hindu-saiwa, dalam masa yang hampir bersamaan datang pula pengaruh agama Buddha dari aliran Mahasanghika (Mahayana) ke tengah-tengah masyarakat Jawa Kuno. Dengan demikian di Jawa bagian tengah antara abad ke-8—10 M berkembang 2 agama besar, yaitu Hindu-saiwa dan Buddha Mahayana yang beraasal dari Tanah India. Dalam perkembangannya itu banyak dihasilkan berbagai bentuk kesenian, seni yang masih bertahan hingga sekarang adalah bukti-bukti seni rupa yang berupa arca dan relief serta dan kemajuan karya arsitektur bangunan suci. Demikianlah risalah singkat ini memperbincangkan perihal zaman Klasik Tua yang berkembang di wilayah Jawa bagian tengah, bukan di wilayah lainnya di Indonesia. Bukti arkeologis yang akan dijadikan data, adalah penggambaran relief dan arca-arca dewa, baik yang dikembangkan dalam lingkup kebudayaan India, dan juga arca dan relief yang dihasilkan oleh kebudayaan Klasik Tua di masa Jawa kuno di Jawa tengah.</p>
<p align="justify"><strong>03.Hellenisme</strong></p>
<p align="justify">Dalam sejarah kebudayaan India, setelah zaman Mohenjodharo dan Harappa, berkembanglah kesenian yang pertama kali muncul di Tanah India, yaitu gaya seni Maurya. Gaya seni Maurya dapat dinyatakan sebagai bentuk akulturasi dari berbagai gaya kesenian yang tumbuh di zaman itu, yaitu meneruskan gaya seni Lembah Sungai Sindhu Kuno, ditambah dengan pengaruh gaya seni Persia (achaemenid) yang sebenarnya sangat mengagumi perkembangan seni rupa Hellas (Yunani Kuno). Raja Chandragupta (322—298 SM), dan Bindusara Maurya (297—272 SM) dikenal sebagai orang yang Hellenophile, mereka pencinta kebudayaan Hellas (Wirjosuparto 1956: 24).</p>
<p align="justify">Orang Yunani kuno menyebut diri mereka sendiri dengan Hellenes, segala sesuatu yang dipandang sebagai milik budaya mereka disebut Hellenic. Adapun bentuk kebudayaan Yunani Kuno yang berkembang sesudah masa Alexander the Great disebut Hellenistic, yang artinya “seperti atau mirip, tetapi tidak sungguh-sungguh Yunani” (Cairns, 1985: 93). Sedangkan paham untuk mengembangkan dan mempelajari kebudayaan Hellenistic yang berkembang di India kemudian disebut dengan Hellenisme.</p>
<p align="justify">Perkembangan seni rupa Maurya sejatinya telah mendahului, perkembangan bentuk kesenian Hellenistic yang dibawa bersama masuknya kekuasaan Alexander the Great ke India bagian utara, beberapa abad kemudian. Kesenian Hellenistic dalam masa sesudah masuknya Alexander the Great sebenarnya melanjutkan saja bentuk anasir kesenian Yunani Kuno yang telah dikenal dalam zaman Maurya. </p>
<p align="justify">Dalam perkembangan seni arca India, gaya seni arca Maurya  merupakan titik pangkal perkembangan seni arca selanjutnya. Pada awalnya  seni arca Maurya dipresentasikan dalam wujud yang serba besar, dan bersifat statis. Setelah mendapat pengaruh anasir seni arca Achaemenid dan Hellas, maka bentuk arca Maurya mengarah kepada bentuk yang halus, lemah lembut, bersifat plastis, ciri-ciri itulah yang kemudian diteruskan oleh bentuk seni arca  India selanjutnya (Wirjosuparto 1956: 32).</p>
<p align="justify">Maka dalam awal abad ke-3 SM mulailah pengembaraan tentara Yunani dipimpin oleh Alexander the Great ke wilayah timur untuk menaklukkan wilayah-wilayah kekuasaan Persia. Dalam tahun 331 SM ia berhasil mengalahkan tentara Persia dan menewaskan rajanya. Tentara Yunani juga menaklukkan wilayah-wilayah di Syria, merebut Tyre setelah dikepung cukup lama, menguasai Memphis dan merebut seluruh wilayah Mesir Kuno (Cairns 1985: 87).  Setelah mengusai Persia Alexander mulai mengarahkan tentaranya ke tanah India, dalam tahun 327 SM tentara Yunani melalui lembah-lembah pegunungan Hindukush masuk ke India utara. Perjalanan mereka dibantu oleh Raja Taksaśilā, raja ini sadar untuk tidak perlu melawan Alexander mengingat tentara yang dipimpinnya sangat banyak, dan pastinya ia akan kalah sia-sia. Setelah berada di wilayah pedalaman, tentara Alexander segera mendapat perlawanan dari orang-orang India. Salah satu peperangan penting terjadi antara tentara Alexander dengan bala tentara Raja Paurawa (Poros) yang menantikan musuhnya dengan tentara yang terdiri dari 200 ekor gajah, 30.000 prajurit infanteri, 4000 prajurit kavaleri, dan 300 kereta perang yang masing-masing dihela 4 kuda yang mampu mengangkut 6 prajurit. (Prijohutomo 1953: 16).</p>
<p align="justify">Semua kekuatan tentara Paurawa itu tidak mampu membendung serangan tentara Yunani, dalam pertempuran di Hidaspes angkatan perang Paurawa binasa, karena hantaman tentara Yunani dan juga karena gajah-gajah mereka sendiri yang menjadi liar akibat serangan berkuda yang melaju pesat dari tentara Yunani. Raja Paurawa ditangkap secara terhormat karena keyakinannya yang gigh membela tanah airnya, pada akhirnya Paurawa dilepaskan dan tetap dirajakan oleh Alexander dan menjadi sekutu orang-orang Yunani  yang penting di India (Prijohutomo 1953: 16, Cairns 1985: 91). Perjalanan bala tentara Yunani kemudian diteruskan memasuki pedalaman India ke lembah Sungai Gangga, akan tetapi ketika sampai ke pinggir Sungai Bias, bala tentaranya mogok dan menyatakan tidak bersedia meneruskan penyerangan merebut kota-kota musuh dan menguasai daerah baru di India. Mereka menyatakan ingin kembali ke Yunani yang telah lama ditinggalkan (Prijohutomo 1953: 17, Mulia  1959: 23). Pada tahun 326 SM, sebelum melakukan perjalanan kembali, Alexander memerintahkan bala tentaranya untuk mendirikan 12 kuil yang sebagai ungkapan terima kasih kepada dewa-dewa Yunani, kuil-kuil itu dilengkapi dengan arca-arca dewa yang tentunya dibuat menurut gaya seni Hellas. Perjalanan kembali  tidak melewati rute yang sama dengan kedatangannya, oleh karena itu tentara Yunani yang jumlahnya puluhan ribu tersebut melalui Sungai Indus menghilir terus ke arah muaranya di Laut Arab. Dalam perjalanan tersebut kerajaan yang ada di tepi Sungai Indus menghadang dan mengadakan perlawanan, sampai 3 kali Alexander dan tentaranya melakukan peperangan dalam perjalanan menghilir Sungai Indus. Sesampainya di tepi Laut Arab dibukalah pelabuhan baru atas nama Alexander. Perjalanan dilanjutkan dengan dua cara, sebagian menempuh perjalanan laut melalui Teluk Persia, dan sebagian lainnya dengan dipimpin sendiri oleh Alexander kembali ke Babylonia melalui perjalanan darat. Perjalanan darat itulah yang mengakibatkan banyak korban jatuh akibat kelelahan, kehausan, kelaparan, penyakit, dan peperangan-peperangan dengan suku-suku di pegunungan dan gurun.  Akhirnya Alexander tiba di Babylonia, sempat menikah dengan seorang putri bernama Roxana, Alexander meninggal dalam usia yang muda dalam umur 32 tahun (Mulia 1959: 24, Cairns 1985: 91)</p>
<p align="justify">Dapatlah dipahami bahwa masuknya anasir kesenian Yunani ke Tanah India dalam masa sesudah kerajaan Maurya adalah akibat dibawa langsung oleh orang-orang Yunani sendiri. Selain mengembangkan pengaruh kekuasaannya, orang-orang Yunani juga pada dasarnya membawa kesenian, terutama seni arca dan reliefnya. Dalam masa Gandhara perkembangan kesenian Hellenistic berlangsung dengan pesat, sehingga lahirlah paham Hellenisme yang menjadikan kesenian Yunani sebagai ukuran keindahan seni. Seni Gandhara terutama dikenal karena kemampuannya dalam mengembangkan kesenian Buddha, kesenian inilah yang pertama kali melukiskan tokoh Buddha sendiri. Sebelum itu Buddha hanya digambarkan dengan berbagai lambangnya, misalnya cakra, tapak kaki, dan petarana kosong. Kesenian Gandhara yang Hellenistic tersebut akan banyak mempengaruhi gaya seni selanjutnya di India (Prijohutomo 1953: 30). Kesenian Mathura yang berkembang agak lebih muda dari Gandhara, banyak terpengaruh pula oleh kesenian Gandhara terutama dalam penggambaran arca-arca Buddha dan Bhodhisattvanya. Kelenturan plastis yang dikembangkan oleh seni arca Mathura sebenarnya memperoleh pengaruh pula dari kesenian Gandhara, karena sejak abad pertama dan hingga abad ke-2 M, kesenian Gandhara masih menjadi acuan pengembangan kesenian Mathura (Wirjosuparto 1956: 48—49).</p>
<p align="justify">Kesenian Klasik India yang memuncak dalam zaman Gupta (sekitar tahun 300—600 M) merupakan perkembangan dan perpaduan lebih lanjut antara seni arca Gandhara dan Mathura. Jadi secara tidak langsung kesenian Gupta juga menyimpan pengaruh seni arca Gandhara terutama dalam penggambaran arca-arca Bauddhanya. Sebagaimana telah diketahui pada akhirnya agama Buddha Mahayana berkembang juga di Pulau Jawa, bahkan berhasil membangun monumen besar yang penuh dengan nilai estetika, yaitu Candi Borobudur. Maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kesenian Buddha dari India juga yang pada awalnya diperkenalkan kepada pemeluk agama Buddha di Jawa. Artinya anasir-anasir dari seni arca Gupta, Mathura, dan Gandhara yang Hellenistic juga memasuki dan mempengaruhi perkembangan seni arca dan relief di Jawa. Risalah singkat ini selanjutnya hendak menilik beberapa anasir seni Gandhara yang memasuki kesenian Jawa Kuno dalam zaman Klasik Tua, melalui perpaduannya dengan kesenian India lainnya, terutama periode Gupta.</p>
<p align="justify"><strong>04. Jejak Anasir Seni Arca Hellenistic dalam kesenian Klasik Tua di Jawa</strong></p>
<p align="justify">Bersamaan dengan berkembangnya agama Buddha di Jawa, maka kesenian Buddhapun berkembang pula, karena kesenian dan aktivitas keagamaan pada masa itu merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Setelah memperhatikan ciri penggambaran relief yang terdapat di candi-candi Buddha masa Klasik Tua di Jawa Tengah, antara lain di Candi Borobudur, maka dapat disimpulkan adanya anasir seni yang mungkin meneruskan tradisi seni Hellenistic Gandhara yang diserap oleh kesenian Mathura dan Gupta yang pada akhirnya masuk ke Jawa.</p>
<p align="justify">Dalam penggambaran relief di candi-candi masa Klasik Tua di Jawa Tengah, dapat dikatakan adanya pengaruh Gandhara dalam kesenian  Gupta yang akhirnya menjadi ciri seni relief Jawa, namun apabila ditelusuri ciri itu dapat dirunut kembali kepada bentuk kesenian Hellenistic Gandhara. Dalam seni relief beberapa anasir Gandhara itu adalah:</p>
<p align="justify"><strong>a.Bentuk relief tinggi<br />
</strong>Awalnya terdapat dalam pahatan-pahatan seni relief Gandhara yang membuat figur tokoh-tokoh</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/venuskomputer.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/venuskomputer.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/venuskomputer.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/venuskomputer.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/venuskomputer.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/venuskomputer.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/venuskomputer.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/venuskomputer.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/venuskomputer.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/venuskomputer.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/venuskomputer.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/venuskomputer.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/venuskomputer.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/venuskomputer.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=venuskomputer.wordpress.com&amp;blog=6824015&amp;post=10&amp;subd=venuskomputer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/05/pengaruh-hellenisme-dalam-gaya-seni-arca-masa-klasik-tua-di-jawa-abad-ke-8%e2%80%9410-m/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03af2f81a6afee03dc05e962541bb9a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">harto12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://venuskomputer.files.wordpress.com/2009/03/gb1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gb1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jepang “Tak Kenal” Indonesia: renungan Budaya 50 Tahun Indonesia-Jepang*</title>
		<link>http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/05/jepang-%e2%80%9ctak-kenal%e2%80%9d-indonesia-renungan-budaya-50-tahun-indonesia-jepang/</link>
		<comments>http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/05/jepang-%e2%80%9ctak-kenal%e2%80%9d-indonesia-renungan-budaya-50-tahun-indonesia-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 01:19:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harto12</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/05/jepang-%e2%80%9ctak-kenal%e2%80%9d-indonesia-renungan-budaya-50-tahun-indonesia-jepang/</guid>
		<description><![CDATA[Kompas edisi cetak dan KOMPAS.com hari-hari terakhir ini diramaikan artikel tentang 50 tahun hubungan Indonesia-Jepang. Pelbagai aspek perkembangan dan strategi peningkatan hubungan bilateral kedua negara diulas, terutama dari bidang ekonomi, teknologi, dan sosial-politik. Sayangnya, ulasan dari sudut budaya belum terwakili. Tulisan ini setidaknya merupakan renungan introspektif demi peningkatan hubungan Indonesia-Jepang melalui bidang budaya. Ironis membaca [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=venuskomputer.wordpress.com&amp;blog=6824015&amp;post=7&amp;subd=venuskomputer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kompas edisi cetak dan KOMPAS.com hari-hari terakhir ini diramaikan artikel tentang 50 tahun hubungan Indonesia-Jepang. Pelbagai aspek perkembangan dan strategi peningkatan hubungan bilateral kedua negara diulas, terutama dari bidang ekonomi, teknologi, dan sosial-politik. Sayangnya, ulasan dari sudut budaya belum terwakili. Tulisan ini setidaknya merupakan renungan introspektif demi peningkatan hubungan Indonesia-Jepang melalui bidang budaya.<br />
Ironis membaca judul tulisan ini. Setidaknya itulah opini yang tercetus dari para mahasiswa Jepang yang tampil dalam sebuah lomba pidato berbahasa Indonesia di Jepang menyambut 50 tahun hubungan bilateral Indonesia-Jepang beberapa waktu yang lalu. Beberapa penampil menegaskan meski banyak wisatawan yang datang ke Indonesia, sesungguhnya sedikit saja warga Jepang yang mengenal Indonesia dalam rentang hubungan Indonesia dan Jepang yang panjang. Sungguh merupakan pernyataan yang menggelitik dari para intelektual muda Jepang yang sedang berjuang memperkenalkan Indonesia di mata warga Jepang.<br />
Opini itu menggelitik mengingat selama ini selalu dikatakan bahwa Indonesia dan Jepang ibarat kakak dan adik, terlepas dari sejarah suram pendudukan Jepang di Indonesia pada 1942—1945. Tambahan pula, rata-rata tiap tahun Jepang tercatat sebagai negara “pemasok” wisatawan terbanyak di Asia, termasuk dalam sepuluh besar di dunia setiap tahun, dan Indonesia termasuk dalam tiga besar sasaran wisata warga Jepang di bawah Singapura dan Malaysia.<br />
Namun, kemesraan hubungan Indonesia-Jepang hanya tampak menonjol di skala makro alias pemerintahan, namun tidak di skala mikro atau pribadi. Meski mudah dijumpai warga Indonesia yang tinggal di Jepang untuk belajar, berkarier, ataupun menetap, dalam skala hubungan antarwarga, orang Indonesia masih dianggap sebagai toumei ninggen, dalam bahasa Jepang, yang berarti orang yang tak dianggap.<br />
Jika pun Indonesia ditampilkan secara nasional, hal yang lebih banyak diekspos dari Indonesia di Jepang dewasa ini adalah kemiskinan dan bencana alam. Dari sisi itu Indonesia, dalam pandangan warga Jepang, adalah negara yang pantas menerima perhatian dan bantuan terbesar di dunia dari Jepang. Tengoklah televisi Jepang yang boleh dinilai jarang menampilkan Indonesia. Kalaupun ada sesekali, berita ataupun feature yang disiarkan lebih banyak menampilkan sisi ketakberdayaan warga Indonesia dalam menghadapi musibah atau kemiskinan. </p>
<p>Kecemburuan pasti menyeruak saat menyaksikan NHK, TBS TV, Nippon TV, dan stasiun televisi lain di Jepang gencar mempromosikan objek wisata dan keunikan negara-negara jiran Indonesia, bahkan hingga penayangan pengajaran bahasanya. Sesuai dengan karakter orang Jepang yang suka melihat ke luar, media Jepang gemar mempromosikan keindahan dan keunikan negara lain di dunia. Namun, di mana Indonesia? </p>
<p>Peran Pusat Studi Indonesia</p>
<p>Tanpa mengecilkan peran warga Indonesia yang berkiprah di Jepang, tak dapat disangkal, peran memperkenalkan Indonesia kepada warga Jepang amat banyak dimainkan oleh pusat-pusat studi Indonesia di Jepang. Tercatat 26 institusi di Jepang, yang kebanyakan adalah universitas, menyelenggarakan program-program pengenalan Indonesia. Sebagian besar menawarkan perkuliahan tentang Indonesia dalam studi pilihan (minor study), namun ada yang membentuk program studi. Di luar itu beberapa pusat kursus (juku) juga mengadakan kursus bahasa Indonesia sebagai bahasa asing.<br />
Beberapa pusat studi yang besar dan didukung oleh pemerintah memainkan peran yang menonjol dalam memperkenalkan Indonesia. Ambillah contoh Program Studi Indonesia Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), sebuah universitas berbadan hukum milik negara yang terdepan dalam penyelenggaraan studi Indonesia di Jepang. Tiap tahun, dalam festival besar Gaigosai di kampus, mahasiswa dan pengajar program studi itu berjuang memperkenalkan Indonesia kepada warga Jepang dalam wujud pementasan karya budaya, seperti drama, tari, dan masakan Indonesia. Mereka pun tak segan mengadakan aksi sosial, bahkan turun ke jalan, untuk menggalang dana bantuan bagi para korban bencana alam di Indonesia, seperti saat tsunami Aceh 2004 dan gempa bumi Jawa Tengah 2006. </p>
<p>Peran pusat-pusat studi Indonesia di Jepang tidak berhenti sampai di situ. Telah lama pusat-pusat studi Indonesia itu mendirikan Nihon-Indonesia Gakkai atau Perhimpunan Pengkaji Indonesia Seluruh Jepang yang berkedudukan nasional di Jepang. Para anggota aktifnya adalah kalangan akademisi Jepang yang mengajar bahasa dan berbagai aspek Indonesia di universitas-universitas Jepang; sisanya akademisi Indonesia yang kebetulan sedang bertamu ke Jepang untuk mengajar. Sejak berdiri pada tahun 1969, setiap tahun Nihon-Indonesia Gakkai mengadakan seminar yang menyajikan pikiran atau hasil penelitian para anggotanya. </p>
<p>Namun, karena fungsi utama pusat studi Indonesia sebagai tempat belajar dan meneliti, pengenalan Indonesia masih terbatas dalam kelas-kelas di pusat-pusat studi Indonesia itu. Itu pun dengan berbagai kendala, terutama makin kurangnya minat generasi muda Jepang mengambil studi Indonesia saat ini. </p>
<p>Jika mahasiswa Jepang dewasa ini yang mengikuti studi Indonesia ditanyai mengapa mereka mau mempelajari Indonesia, banyak di antaranya menjawab tidak tahu atau karena gagal dalam ujian masuk ke program studi yang dianggap menawarkan prospek karier lebih baik. Mengikuti krisis Indonesia sejak 1998, yang andil menyebabkan turunnya minat mempelajari Indonesia, beberapa pusat studi Indonesia di Jepang terpaksa dihapuskan atau dilebur dengan pusat studi negeri-negeri jiran.      </p>
<p>Perlunya Pusat Kebudayaan Indonesia di Jepang</p>
<p>Umumnya pusat-pusat studi Indonesia itu lebih banyak bergerak dalam lingkungan masing-masing. Padahal, besar minat mereka untuk bekerja sama dengan warga Indonesia di Jepang dalam memperkenalkan Indonesia di Jepang. Inilah yang agak disayangkan. Pada akhirnya aktivitas pusat studi terbatas pada kegiatan pengajaran, penelitian, dan seminar pada lingkungan yang terbatas.<br />
Mengandalkan warga Indonesia yang tinggal di Jepang untuk memperkenalkan Indonesia tidaklah cukup. Di sinilah seyogianya Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang berhubungan aktif dengan pusat-pusat studi Indonesia di Jepang. Keluarannya adalah aneka kegiatan yang melibatkan semua pihak untuk memperkenalkan Indonesia lebih luas dan berkesinambungan.</p>
<p>Kegiatan yang paling efektif untuk meningkatkan pengenalan Indonesia kepada warga Jepang tidak lain adalah kegiatan budaya. Pusat Kebudayaan Indonesia, yang diselenggarakan di beberapa KBRI di dunia, dapat menjadi jembatan efektif yang menghubungkan Indonesia dengan pusat-pusat studi Indonesia setempat. Ambillah contoh Pusat Kebudayaan Indonesia di Australia dan Korea yang aktif mempromosikan Indonesia dan berhubungan dengan pusat-pusat studi setempat. Bentuk kegiatannya beragam, mulai dari kunjungan para tokoh Indonesia ke pusat-pusat studi Indonesia untuk promosi Indonesia, penyelenggaraan acara seni dan budaya bersama, hingga pengadaan perpustakaan lengkap Indonesia.<br />
Pusat Kebudayaan Indonesia di negara asing tidak hanya berfungsi untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia kepada warga setempat, tetapi juga untuk menjelaskan persoalan-persoalan yang menimpa Indonesia secara objektif kepada warga setempat. Di Jepang, isu negatif yang sekecil apa pun, terutama yang berhubungan dengan keamanan dan keselamatan, rentan dicemaskan secara nasional. Isu Garuda Indonesia yang tak layak terbang ke beberapa negara di dunia beberapa waktu yang lalu, misalnya, menggagalkan program-program kerja sama Indonesia-Jepang yang telah direncanakan. Banyak kunjungan yang seharusnya menghasilkan investasi bagi Indonesia batal, termasuk kunjungan sosial-budaya yang direncanakan oleh pusat-pusat studi Indonesia. </p>
<p>Aneka produk budaya Indonesia seyogianya dapat disebarluaskan melalui Pusat Kebudayaan Indonesia. Warga Jepang, terutama generasi mudanya, yang mudah mengalami “demam” produk budaya kontemporer dunia pasti akan menyambut baik kreasi produk budaya kontemporer Indonesia dalam wujud film, sinetron televisi, lagu, drama, tari, karya sastra terjemahan, dan makanan. Sementara “gaya Harajuku” dan manga cepat mendemamkan warga Indonesia, batik, musik pop, dan film sekelas Laskar Pelangi, misalnya, tidak akan sulit merebut hati warga Jepang untuk mengenal lebih dalam Indonesia. </p>
<p>Masih banyak pastinya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengenalan Indonesia di mata warga Jepang dengan pendekatan kultural. Setidaknya, wakil Pemerintah dan warga Indonesia yang berada di Jepang mampu berbuat lebih banyak bagi negaranya. Demikian pula, warga Jepang yang mencintai Indonesia ingin berbuat lebih banyak demi pengenalan Indonesia di mata keluarga dan rekan-rekannya. Semoga 50 tahun hubungan bilateral Indonesia-Jepang ini tidak berhenti pada perayaan seremonial semata.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/venuskomputer.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/venuskomputer.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/venuskomputer.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/venuskomputer.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/venuskomputer.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/venuskomputer.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/venuskomputer.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/venuskomputer.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/venuskomputer.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/venuskomputer.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/venuskomputer.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/venuskomputer.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/venuskomputer.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/venuskomputer.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=venuskomputer.wordpress.com&amp;blog=6824015&amp;post=7&amp;subd=venuskomputer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/05/jepang-%e2%80%9ctak-kenal%e2%80%9d-indonesia-renungan-budaya-50-tahun-indonesia-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03af2f81a6afee03dc05e962541bb9a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">harto12</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/04/hello-world/</link>
		<comments>http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/04/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 13:50:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harto12</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=venuskomputer.wordpress.com&amp;blog=6824015&amp;post=1&amp;subd=venuskomputer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/venuskomputer.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/venuskomputer.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/venuskomputer.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/venuskomputer.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/venuskomputer.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/venuskomputer.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/venuskomputer.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/venuskomputer.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/venuskomputer.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/venuskomputer.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/venuskomputer.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/venuskomputer.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/venuskomputer.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/venuskomputer.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=venuskomputer.wordpress.com&amp;blog=6824015&amp;post=1&amp;subd=venuskomputer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/04/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03af2f81a6afee03dc05e962541bb9a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">harto12</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
